Minggu, 03 Januari 2010

Mempersiapkan Bekal Kematian

Published by M Yafi Zhafran on Minggu, 03 Januari 2010  | 3 comments

Usia manusia memang tidak bisa di tebak, tetapi karena tidak bisa ditebak itulah mestinya kita harus selalu mempersiapkan diri untuk menghadapi mati. Mampukah kita untuk meyakinkan diri kita untuk siap mati..??

alih-alih, dalam setiap perbincangan tentang kematian yang muncul justru rasa takut. Dewasa ini, langka mendapati orang yang siap mati cepat dengan bekal keimanan yang cukup. bahkan dalam do'a pun, sering orang-orangberdo'a agar umurnya dipanjangkan(panjang umur).

Perasaan seperti itu rasanya lumrah(manusiawi). menghirup aroma duniawi yang begitu
nikmat menjadikan manusia betah berada dalam dunia ini. tak mudah melepasnya

Sementara kematian bagi akal sehat manusia yang dangkal, merupakan akhir dari seluruh rangkaian kehidupan. Alhasil, kenikmatan yang tengah dirasakan akan terhenti saat kematian menyergap.

Berbeda dari akal sehat orang yang beriman, dunia tak lebih hanyalah tempat Persinggahan. Rumah hakiki berada di kehidupan yang hakiki pula.
Nan jauh di Palestina sana, Segerombolan manusia RELA MATI menyerahkan nyawanya. . Tak ada semburat ketakutan dari dalam dirinya.

Siap mati memacu diri untuk beribadah lebih mendalam. Siap mati membuat kita agar Tidak kufur, nikmat, dan syirik. karena dalam kondisi apapun, Manusia harus selalu berada di jalan-Nya.

Tapi siap mati bukan berarti BUNUH DIRI. Siap Mati adalah siap dengan perbekalan menjemput kehidupan setelah mati Bertemu dengan Sang Yang Maha Hidup, guna menjalani kehidupan yang abadi. jadi, kalau lah masa kematian menjadi sesuatu yang kasat mata, Tentu akan mudah bagi kita untuk mempersiapkannya. Mudah-mudahan, kita termasuk dalam Orang-orang yang cukup bekal imannya untuk menuju ke kehidupan yang abadi..
Wallahu'Alam....

Ditulis dalam kategori:

3 komentar:

  1. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita.. amin

    BalasHapus
  2. Kullu nafsin dzaaikatul maut. QS.3. Setiap yg bernyawa pasti Mati. Ini adalah Takdir.
    rasa takut tidak akan memperlambat kematian dan rasa berani tdk akan mempercepat kematian karena kematian sudah ada waktunya.

    org takut mati karena merasa hidupnya dipenuhi maksiat sementara org beriman siap menjemput kematian karena hidupnya dipenuhi ketaatan. tidak ada rasa takut bagi mereka.

    Kematian itu tdk penting, cara kita menyambut maut itulah yg lebih penting. Seni menjemput maut. Ingin mati dalam su'ul khotimah atau husnul khotimah. Itu pilihan. Tapi Allah sudah memesankan, "Wahai orang2 yg beriman, bertakwalah kpd Allah dgn sebenar2nya takwa dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan berserah diri."

    Nice posting...

    Semangat !!!

    BalasHapus
  3. hallo mbak salam sahabat dari menteng dalam

    BalasHapus

Web Development by www.bangyafi.com.
back to top